Oleh: Muhammad Noor Sayuti

Tak bisa dipungkiri bahwa menghafal Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat. Benar, sebuah mukjizat besar, kita dapat menemukan jutaan umat Islam yang hafal Al-Qur’an. Padahal kitab ini tergolong besar, surat-suratnya sangat banyak, dan banyak pula ayat-ayat yang hampir mirip, bahkan terulang.

Tidaklah Allah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, apalagi terhadap kalam-Nya, Pastilah tidak akan ada sedikitpun yang sia sia. Setiap kalam-Nya yang disebut dalam Al-Quran pastilah memiliki hikmah yang sangat besar. Apakah suatu ayat tersebut diulang atau tidak, tentu ada maksud Allah dibaliknya.

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ١٧

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran

 

Sebagaimana pengulangan ayat dalam QS. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40. Betapa Allah hendak menekankan kepada pembaca untuk memperhatikan baik-baik apa yang disampaikan-Nya dalam firman-Nya. Ayat-ayat dalam surah tersebut memperlihatkan kepada kita diantara mukjizat besarnya yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ. Ketika orang-orang yang mendustakan Beliau meminta diperlihatkan sesuatu yang menyelisihi kebiasaan yang menunjukkan kebenaran apa yang Beliau bawa, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke bulan dengan izin Allah Ta’ala, maka terbelahlah bulan menjadu dua bagian.

Dewasa ini ketika kebanyakan orang meragukan betapa mudahnya menghafal Al-Qur’an. Allah telah mempersiapkan jawaban tersebut untuk menepis keraguan di hati hambanya, sungguh Allah telah memberi garansi akan mudahnya Al-Qur’an untuk dihafalkan. Sebagimana firman-Nya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran

Dengan uslub (gaya bahasa) Al-qur’an yang indah, rangkaian ayat-ayat dan diksinya yang sangat tepat. Secara implisit Allah ingin menekankan bahwa ayat tersebut menginformasikan betapa mudahnya mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an. Huruf “qad” yang biasa terletak sebelum fi’il madhi dan fi’il mudhari berfungsi sebagai penegas suatu pekerjaan. Sangat jarang di dalam Al-Qur’an huruf qad disandingkan dengan huruf lainnya, kecuali di dalamnya Allah ingin menunjukkan sesuatu. Huruf qad dan lam yang disandingkan pada ayat tersebut menunjukkan ayat tersebut diragukan banyak orang. Sungguh Allah ingin menekankan kepada manusia “Yassarna Al-Qur’an” Al-qur’an sangat mudah untuk dipelajari. Dalam bahasa Arab ada dua kalimat yang mengandung makna mudah. Yaitu, “yusrun” dan “sahlun” perbedaan keduanya adalah yusrun bersifat absolute untuk semua kalangan, dan sahlun bersifat relative bagi sebagian kalangan. Al-Qur’an selalu menggunakan kata yusrun untuk meyakinkan kepada kita, setiap ayat bahkan hurufnya adalah wa’dullah al-mubiin li ‘ibadihi. Bahkan penegasan kalimat sangat ditekankan dengan pengulangan kalimat.

Mukjizat ayat diatas dirasakan langsung oleh penulis ketika mengajar anak-anak SMP menghafal Al-Qu’ran. Sungguh mukjizat Allah Nampak di bawah atap sekolah kami. ialah Siti Waridatunnida, seorang siswi di salah satu sekolah swasta di Bandung. SMPIT Bina Insan Unggul. atas izin Allah dia diberikan kelebihan kemudahan menghafal Al-Qur’an, satu setengah lembar dari mushaf al-qur’an disantap dengan nikmat hanya dalam beberapa jam. Tidak ada kesulitan pun baginya mengingat kalimat demi kalimat, yang bahkan, dia sendiri belum mengerti persis apa maknanya. Betapa mudahnya bagi Allah membuat seorang buta huruf dapat membaca Al-Qu’ran. Hanya dengan perintah iqra! (bacalah), membuat rasulullah ﷺ yang tadinya buta huruf atas nama Allah, seketika itu rasulullah ﷺ dapat membacanya.

Lanjutnya kalimat pada ayat diatas, Allah menegaskan kepada objeknya, bukan subjeknya, yang mudah untuk dipelajari atau dihafal adalah Al-Qur’an-Nya, bukan orang yang mempelajari atau menghafalnya. kesulitan menghafal Al-Qur’an bukanlah datang dari Al-Qur’annya, tetapi faktor internal manusia yang membuat hal itu menjadi sulit, sikap pesimis dan keraguan akan potensi menghafal Al-Qur’an-lah menjadi penghambatnya, potensi yang disandarkan pada selain Allah menjadi faktor utama penghambat seseorang menghafal Al-Qur’an. Kemudian dengan kalimat menantang Allah menantang, “adakah orang yang mau mempelajarinya?”. Inti dari ayat tersebut adalah, pentingnya keinginan, tekad, serta keyakinan yang kuat untuk menghafal, barulah semua itu menjadi mudah, dan ‘azam (tekad) yang kuat hanya bisa dicapai dengan membina kedekatan kepada Allah.

Hubungan yang intens kepada Allah menjadi penunjang dimudahkannya seseorang dalam menghafal Al-Qur’an. Siti Waridatunnida, seorang anak jenius yang Allah berikan kelebihan kemudahan baginya menghafal Al-Qur’an adalah contoh nyata. Istiqomahnya membina kemesraan dengan Allah di sepertiga malam (tahajjud), membuatnya mendapatkan hidayah dari Al-Furqon. Tidak hanya itu, kewajiban perintah-perintah dalam Al-Qur’an pun istiqomah dia laksanakan, perintah sakral berbakti kepada orang tua juga menjadi faktor yang tidak kalah penting, keistiqomahan Siti meminta do’a kepada orang tuanya agar dimudahkan menghafal Al-Qu’ran langsung diijabah Allah tanpa pending.

Bersyukur Allah mempertemukan kami, memperlihatkan langsung ‘aja’ibul ayat tersebut melalui hafalan Siti. bertemu dengan anak sejenius Siti yang mampu menghafal satu setengah lembar mushaf Al-Qur’an hanya dalam beberapa jam, bahkan mampu menghafal ayat dengan sekali lihat, adalah pelajaran yang sempurna dari Kalamullah, tidak satupun ayat-ayatnya yang sia-sia, hingga penulis merasakan langsung sentuhan keajaiban-Nya, melalui hamba yang dia pilih.

SITI

Siti Waridatunnida

Semoga Allah menjadikannya penghafal Al-Qu’ran, sebagai benteng kokohnnya agama Islam.

Dan menjadi motivasi bagi para penghafal Al-Qu’ran lainnya